Move On (Itu Mudah)
"Eh, gimana rasanya menikah?" tanya Jaka.
"Gak enak." jawab Mala singkat. Guratan pada wajah Jaka pun
mengembang. "Masak sih?"
"Kalo ujung-ujungnya cerai ya gak enak." kata Mala datar.
Mendengarnya Jaka terdiam. Hatinya merasa tak enak, kikuk. Namun dia
bingung harus berkata apa.
"Sorry, ya."
Mala tak bergeming, dia hanya asyik memandang kakinya mengayun
berirama. Sesekali tangannya menghalau helaian rambutnya yang mengganggu wajah
ayunya karena tertiup angin sore. Mereka berdua tak sendirian di taman itu,
terlihat muda-mudi berpasangan layaknya mereka, tak menghiraukan suara
kendaraan-kendaraan besar yang lalu lalang di jalan raya dari kejauhan.
Tamannya cukup luas dan artistik, terlihat beberapa miniatur hewan besar yang
dibentuk dari perkakas-perkakas dari pasar loak. Rumputnya rapi, karena memang
dirawat oleh sebuah dinas. Prestasi
pemerintah daerah untuk ukuran sebuah kota kecil.
"Tapi gak kapok kan nikah lagi?" goda Jaka. "Jaka, udah
deh! Jangan bahas nikah lagi." Mala melipat tangannya, wajahnya cemberut.
"Atau kita pulang aja?"
"Eh eh jangan dong, Mal."
Tangan Mala meronta minta dilepaskan oleh Jaka, dia bersikukuh untuk
pulang. Dan Jaka dengan sabar merayunya agar dia bisa melanjutkan kencan ini.
Namun pada akhirnya pendirian Mala tetap kokoh. Dia tersinggung dengan ucapan
Jaka. Trauma tentang pernikahannya kambuh, dia bertahan agar tidak menangis.
Dalam perjalanan pulang mereka berdua hanya terdiam. Jaka tak tahu
harus berbuat apa-apa, dia masih berharap untuk bertemu kembali dengan Mala
meskipun semua tergantung sang janda. Mala pun berharap Jaka seorang yang bisa
menyenangkan dirinya, namun Mala memutuskan dia tak cukup memenuhi standar yang
dibuatnya.
“Ya sudah. Aku pulang dulu, Mal.”
Mala hanya memberi senyum enggan dan pandangan mengusir,
membuat hati Jaka pecah berkeping-keping. Vespa birunya dia gas dengan kuat, oleng
ketika melewati polisi tidur, untungnya Jaka mahir mengendalikan vespanya.
Mulutnya terkatup rapat, pikirannya seperti dihajar massa. Jaka mencari arah
dan tujuan, tapi dia tak menemukannya. Dia mengingat-ingat perkenalan manis
dengan sang janda, bagaimana dia mulai intensif menghubunginya, saling
mencurahkan masalah yang seringkali Mala yang membicarakan masalah. Rasanya tak
menyangka saja Mala tak seperti seorang yang dikenalnya waktu itu.
***
“Jadi kau benar-benar mengantar dia pulang?” ujar Oji yang
sibuk mengaduk gula dalam kopi.
“Ya, iyalah! Mau gimana lagi?” jawab Jaka gusar. “Dia
bersikeras.”
“Hahaha. Santai, bro.” Oji menyodorkan kopi ke Jaka dan
duduk di depannya. “Memang harus sabar hadapinnya, apalagi kau kan tau
statusnya dia. Mungkin dia masih trauma.”
“Kan udah setahun, masak dia masih trauma, Ji?”
“Tiap orang kan beda-beda, Jak. Udah resiko sih deketin
janda. Apalagi dia juga masih anak baru gede.”
Oji beranjak dari duduknya karena ada pelanggan warung
kopinya memesan minuman malam itu. Jaka merenung masih memikirkan sikap Mala
saat itu, bahwa tidak mungkin Mala bersikap demikian kalau tidak ada pemicunya.
Dan Jaka sedang mencari pemicunya, pikirannya menerawang dengan logika keluar
dari akal sehat. Mulai dari tebakannya bahwa mantan suaminya yang masih
mengganggunya sampai saingan-saingannya untuk mendekati pujaan hati.
“Kau sudah tahu kenapa dia nikah muda?” Oji kembali duduk di
depan Jaka.
“Dia selalu tertutup untuk soal pernikahan, Ji. Aku juga
penasaran sih.”
“Kebanyakan para gadis di bawah umur nikah muda memang
karena orang tua sih. Dan mereka lakuin itu terutama karena faktor ekonomi dan
pendidikan. Jadi bukan salah mereka juga sih. Salah pemerintah. Hahaha.”
Oji melihat Jaka tak memperhatikan topik yang
dibicarakannya. Lalu Oji geleng-geleng kepala mengingat Jaka masuk dalam
warungnya dan langsung mencurahkan cerita kencannya yang gagal. Dia tak
terkejut bahwa temannya akan berakhir seperti ini akibat kencan pertamanya. Toh,
pilihannya cuma ada dua, dia berhasil atau dia gagal. Namun dia bertaruh besar
kencan pertama Jaka dengan Mala berakhir buruk. Beruntung warung kecilnya cukup
sepi, hanya ada dua orang bapak-bapak berwajah serius yang sedang berdiskusi
berat tentang sesuatu, jadi dia bisa meladeni curhatan sahabatnya itu.
“Kan aku udah bilang, cari saja yang lain. Kau udah terlalu
lama PDKT dengan dia, Jak” Jaka diam saja lalu mencoba menuangkan kopi panas ke
lepek cangkir untuk mendinginkannya. “Dan PDKT yang terlalu lama itu gak bagus,
Jak. Kau bisa masuk dalam perangkap friendzone, cuma dianggap teman saja.
Hahaha.”
“ Gak bisa, Ji. Gak bisa ngilangin dia dari pikiran.”
“Kau mendingan besok ikut aku aja, Jak. Kita main
badminton!”
“Ah, males!”
Oji hanya cengar-cengir melihat respon Jaka. Dia tau Jaka
berada dalam status reality crash—begitu para dokter cinta menyebutnya. Suatu
kondisi dimana seseorang tak mempercayai informasi yang masuk dalam otak. Jaka
tak mempercayai bahwa kencannya telah gagal, dia sibuk mencari-cari berbagai
strategi selanjutnya yang parahnya mungkin Jaka akan memaksa Mala menjadi
kekasihnya. Dan tentu, semua orang tak mau dipaksa.
Yang bisa dilakukan Oji sebagai teman yang supportif hanya
satu, membuat Jaka mengalihkan pikirannya dari Mala. Ada kemungkinan besar Jaka
bakal tak bisa melupakan perjuangannya mendekati Mala, tapi Oji yakin sekali
untuk mengalihkan perhatian Jaka dari pikiran kacaunya. Salah satu metodenya
adalah membuat Oji kelelahan fisik, sehingga dia tak ada waktu untuk memikirkan
strategi untuk memperjuangkan Mala lagi. Paling cepat tiga hari, dan mungkin
yang paling parah sebulan atau selamanya.
***
Malam semakin larut namun gerimis malu-malu datang. Sebentar
saja, namun berkesan. Jalanan mungkin basah, tapi matahari kan menghapus
jejaknya. Namun gerimis akan datang kembali, entah berapa kali, tak terhitung.
Namun bumi terus berputar, tak peduli gerimis datang berapa kali.
Mala menerima telpon malam itu, ucapan terima kasih dari
seorang laki-laki yang bersikap menyedihkan, dia balas dengan berbasa-basi.
Setelah dia menutup telponnya, Mala melanjutkan tontonan tengah malamnya,
tantangan horror sendirian dalam kegelapan. Semudah itu dia melupakan laki-laki
itu.
Revisi I : 16 Maret 2015