Friday, March 20, 2015

Move On (Itu Mudah)

Move On (Itu Mudah)

"Eh, gimana rasanya menikah?" tanya Jaka.

"Gak enak." jawab Mala singkat. Guratan pada wajah Jaka pun mengembang. "Masak sih?"

"Kalo ujung-ujungnya cerai ya gak enak." kata Mala datar.

Mendengarnya Jaka terdiam. Hatinya merasa tak enak, kikuk. Namun dia bingung harus berkata apa.

"Sorry, ya."

Mala tak bergeming, dia hanya asyik memandang kakinya mengayun berirama. Sesekali tangannya menghalau helaian rambutnya yang mengganggu wajah ayunya karena tertiup angin sore. Mereka berdua tak sendirian di taman itu, terlihat muda-mudi berpasangan layaknya mereka, tak menghiraukan suara kendaraan-kendaraan besar yang lalu lalang di jalan raya dari kejauhan. Tamannya cukup luas dan artistik, terlihat beberapa miniatur hewan besar yang dibentuk dari perkakas-perkakas dari pasar loak. Rumputnya rapi, karena memang dirawat oleh sebuah dinas. Prestasi  pemerintah daerah untuk ukuran sebuah kota kecil.

"Tapi gak kapok kan nikah lagi?" goda Jaka. "Jaka, udah deh! Jangan bahas nikah lagi." Mala melipat tangannya, wajahnya cemberut. "Atau kita pulang aja?"

"Eh eh jangan dong, Mal."

Tangan Mala meronta minta dilepaskan oleh Jaka, dia bersikukuh untuk pulang. Dan Jaka dengan sabar merayunya agar dia bisa melanjutkan kencan ini. Namun pada akhirnya pendirian Mala tetap kokoh. Dia tersinggung dengan ucapan Jaka. Trauma tentang pernikahannya kambuh, dia bertahan agar tidak menangis.

Dalam perjalanan pulang mereka berdua hanya terdiam. Jaka tak tahu harus berbuat apa-apa, dia masih berharap untuk bertemu kembali dengan Mala meskipun semua tergantung sang janda. Mala pun berharap Jaka seorang yang bisa menyenangkan dirinya, namun Mala memutuskan dia tak cukup memenuhi standar yang dibuatnya.

“Ya sudah. Aku pulang dulu, Mal.”

Mala hanya memberi senyum enggan dan pandangan mengusir, membuat hati Jaka pecah berkeping-keping. Vespa birunya dia gas dengan kuat, oleng ketika melewati polisi tidur, untungnya Jaka mahir mengendalikan vespanya. Mulutnya terkatup rapat, pikirannya seperti dihajar massa. Jaka mencari arah dan tujuan, tapi dia tak menemukannya. Dia mengingat-ingat perkenalan manis dengan sang janda, bagaimana dia mulai intensif menghubunginya, saling mencurahkan masalah yang seringkali Mala yang membicarakan masalah. Rasanya tak menyangka saja Mala tak seperti seorang yang dikenalnya waktu itu.

***

“Jadi kau benar-benar mengantar dia pulang?” ujar Oji yang sibuk mengaduk gula dalam kopi.

“Ya, iyalah! Mau gimana lagi?” jawab Jaka gusar. “Dia bersikeras.”

“Hahaha. Santai, bro.” Oji menyodorkan kopi ke Jaka dan duduk di depannya. “Memang harus sabar hadapinnya, apalagi kau kan tau statusnya dia. Mungkin dia masih trauma.”

“Kan udah setahun, masak dia masih trauma, Ji?”

“Tiap orang kan beda-beda, Jak. Udah resiko sih deketin janda. Apalagi dia juga masih anak baru gede.”

Oji beranjak dari duduknya karena ada pelanggan warung kopinya memesan minuman malam itu. Jaka merenung masih memikirkan sikap Mala saat itu, bahwa tidak mungkin Mala bersikap demikian kalau tidak ada pemicunya. Dan Jaka sedang mencari pemicunya, pikirannya menerawang dengan logika keluar dari akal sehat. Mulai dari tebakannya bahwa mantan suaminya yang masih mengganggunya sampai saingan-saingannya untuk mendekati pujaan hati.

“Kau sudah tahu kenapa dia nikah muda?” Oji kembali duduk di depan Jaka.

“Dia selalu tertutup untuk soal pernikahan, Ji. Aku juga penasaran sih.”

“Kebanyakan para gadis di bawah umur nikah muda memang karena orang tua sih. Dan mereka lakuin itu terutama karena faktor ekonomi dan pendidikan. Jadi bukan salah mereka juga sih. Salah pemerintah. Hahaha.”

Oji melihat Jaka tak memperhatikan topik yang dibicarakannya. Lalu Oji geleng-geleng kepala mengingat Jaka masuk dalam warungnya dan langsung mencurahkan cerita kencannya yang gagal. Dia tak terkejut bahwa temannya akan berakhir seperti ini akibat kencan pertamanya. Toh, pilihannya cuma ada dua, dia berhasil atau dia gagal. Namun dia bertaruh besar kencan pertama Jaka dengan Mala berakhir buruk. Beruntung warung kecilnya cukup sepi, hanya ada dua orang bapak-bapak berwajah serius yang sedang berdiskusi berat tentang sesuatu, jadi dia bisa meladeni curhatan sahabatnya itu.

“Kan aku udah bilang, cari saja yang lain. Kau udah terlalu lama PDKT dengan dia, Jak” Jaka diam saja lalu mencoba menuangkan kopi panas ke lepek cangkir untuk mendinginkannya. “Dan PDKT yang terlalu lama itu gak bagus, Jak. Kau bisa masuk dalam perangkap friendzone, cuma dianggap teman saja. Hahaha.”

“ Gak bisa, Ji. Gak bisa ngilangin dia dari pikiran.”

“Kau mendingan besok ikut aku aja, Jak. Kita main badminton!”

“Ah, males!”

Oji hanya cengar-cengir melihat respon Jaka. Dia tau Jaka berada dalam status reality crash—begitu para dokter cinta menyebutnya. Suatu kondisi dimana seseorang tak mempercayai informasi yang masuk dalam otak. Jaka tak mempercayai bahwa kencannya telah gagal, dia sibuk mencari-cari berbagai strategi selanjutnya yang parahnya mungkin Jaka akan memaksa Mala menjadi kekasihnya. Dan tentu, semua orang tak mau dipaksa.

Yang bisa dilakukan Oji sebagai teman yang supportif hanya satu, membuat Jaka mengalihkan pikirannya dari Mala. Ada kemungkinan besar Jaka bakal tak bisa melupakan perjuangannya mendekati Mala, tapi Oji yakin sekali untuk mengalihkan perhatian Jaka dari pikiran kacaunya. Salah satu metodenya adalah membuat Oji kelelahan fisik, sehingga dia tak ada waktu untuk memikirkan strategi untuk memperjuangkan Mala lagi. Paling cepat tiga hari, dan mungkin yang paling parah sebulan atau selamanya.

***

Malam semakin larut namun gerimis malu-malu datang. Sebentar saja, namun berkesan. Jalanan mungkin basah, tapi matahari kan menghapus jejaknya. Namun gerimis akan datang kembali, entah berapa kali, tak terhitung. Namun bumi terus berputar, tak peduli gerimis datang berapa kali.

Mala menerima telpon malam itu, ucapan terima kasih dari seorang laki-laki yang bersikap menyedihkan, dia balas dengan berbasa-basi. Setelah dia menutup telponnya, Mala melanjutkan tontonan tengah malamnya, tantangan horror sendirian dalam kegelapan. Semudah itu dia melupakan laki-laki itu.


Revisi I : 16 Maret 2015

Friday, October 31, 2014

#4 Mr. Hormon: Anti Hero



Petualangan Raka berlanjut melewati malam demi malam, but suatu hari dia merasa bosan menjalani rutinitas. Stuck dengan hal-hal yang sama, tak ada gairah karena hampir semua daerah dia jelajahi. Meremehkan? Mungkin. Tapi sekiranya Raka mencari gairah yang dulu dia nikmati ketika pertama kali mendapatkan ability transportasi roh.

"Mungkin gue perlu sesuatu yang lebih wah daripada menjelajahi tubuh-tubuh wanita"

Yeah, I think so. Jadi Raka pun memikirkan kemungkinan-kemungkinan untuk menyelamatkan dunia, save the world namun tidak ada yang sampai ke logikanya. Iya, dia tidak punya kekuatan fisik untuk melumpuhkan seseorang seperti superhero dalam komik. Mungkin bisa melakukan spionase, tapi tak mungkin. Tiba-tiba dia teringat akan suatu efek samping dari ability nya ke orang lain setelah penyatuan roh. Yes, Raka bisa melumpuhkan orang lain!

"So what's we gonna do?" Raka berpikir lagi.

Lalu doi teringat tentang kebutuhan-kebutuhan pokok dan kebutuhan-kebutuhan sekunder dari tuntutan sosial kelasnya. Terpikir untuk mencuri uang dari sebuah lembaga atau seseorang yang kaya, tertarik bergerak sebagi robin hood. Namun kemana dia akan mencuri?

Lalu beberapa jam setelahnya dia sampai di sebuah bank yang pernah memiliki masalah dengan negara namun lolos dihukum yang berat. Melakukan spionase berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mengampati proses keluar masuk uang, hingga penyimpanan uangnya.

***

Di belakang mobil brankas yang sedang berjalan, dua orang petugas kekar berotot sedang berbincang hangat.

"Hei, hari ini lo kenapa dipanggil bos?"

"Gak papa. Cuma dipromosiin aja jadi manajer keamanan heheh"

"What?! Waaah selamat bro! Harus traktir-traktir nih!"

"Oke deh, pulang kerja yak. Lo panggil semua temen-temen"

"Siap, Manajer! Haha"

"Anjinggg lo hahaha"

Lalu mobil itu berhenti di sebuah gedung bank yang besar dan tinggi. Dan mulailah proses transfer uang selanjutnya yaitu memindahkan uang ke brankas. Setelah melewati pintu demi pintu dan ruangan demi ruangan akhirnya sampai pada brankas besar tempat uang berada. Ketika pintu brankas dibuka, tiba-tiba satu persatu petugas transfer yang rata-rata berotot besar itu terjatuh pingsan, meninggalkan pintu brankas yang terbuka.

Lalu seseorang terbangun dan bergegas mengambil sebuah tas dan masuk ke ruangan brankas yang terbuka. Tanpa basa-basi dia langsung memindahkan uang-uangnya memenuhi tasnya. Setelah dirasanya cukup, dia bergegas keluar gedung tersebut dengan menaiki mobil pickup dan bersikap biasa di depan sekuriti yang menjaga gerbang masuk. Setelah dianggap cukup jauh, petugas itu berhenti di sebuah tanah lapang yang sepi, dan mulai menggali lobang kemudian mengubur tas yang berisi uang tersebut ke dalam lalu dia kembali ke gedung bank.

Bank sudah ramai dengan orang-orang, beberapa keramaian wartawan mulai memenuhi gerbang bank dan dua orang polisi berjaga-jaga mencegah wartawan untuk masuk. Raka yang merasuki tubuh petugas yang membawa kabur uang tadi berpikir nothing to lose untuk meninggalkan tubuh korban dan mobilnya di situ.

***

Tiga puluh juta rupiah berada di tangan Raka. Dia merasa girang, namun tugasnya belum selesai. Untuk menutupi jejaknya dia mentransfer seluruh uang itu ke rekeningnya dengan memecahnya selama 30 hari untuk menghindari orang-orang bank yang curiga. Sebenernya bukan bank, Raka menabung di kantor Pos.

Dan headline majalah politik ternama bulan itu, "Pencurian Bank Paling Halus!"

PS: Gue gak pernah tau sistem bank kayak gimana. Steal dari film-film perampokan bank yang rata-rata menyimpan uangnya di brankas di dalam sebuah gedung yang gede dan tinggi

Sebelumnya

First Issues

Wednesday, October 29, 2014

#3 Mr. Hormon: Marissa



Petualangan Raka dari tubuh ke tubuh, dari hotel ke hotel, dari wanita ke wanita menemukan fitur-fitur baru dari ability nya. Dia bisa transfer roh dengan menyentuh fisik seseorang dengan mudah, memang awalnya butuh konsentrasi tapi lama-kelamaan dia bisa melakukannya dengan mudah. Lalu dengan mengandalkan foto dan konsentrasi tertentu dia bisa teleportasi roh ke yang bersangkutan. Great. Dan juga bisa kembali dengan mudah karena dengan konsentrasi sedikit dia bisa kembali ke tubuh fisiknya sekarang, tanpa perlu ada jarak dan waktu yang menghalangi.

Seringkali yang dijadikan percobaan adalah adiknya, Raka melakukan ini untuk mengetahui efek seseorang setelah dimasuki tubuh astralnya. Setelah melakukannya berkali-kali, akhirnya dia mulai paham kelebihan dan kelemahan dari ability nya. Mulai dari sang korban yang setelah ditinggal langsung tertidur, lalu mereka tak ingat apa-apa namun mereka merasakan perubahan fisik setelah melakukan hal-hal fisik tertentu. Sementara ini belum ada yang belum bisa ditembus fisiknya oleh Raka.

"Mungkin akan menarik jika ada seseorang yang tak bisa ditembus dengan ability ini" pikir Raka.

Suatu hari Raka membuka akun instagramnya, melihat akun cewek-cewek cihuy yang akan menjadi target cihuy nya nanti. Lalu dia menemukan update feed dari seorang seleb yang dia kagumi akan kesensualannya, Marissa Jane. Tanpa pikir panjang dia langsung berkonsentrasi untuk teleportasi ke tubuh tersebut. Namun tak bisa!

"Lho kok gak bisa ya?" pikir Raka

Dia pun mencobanya beberapa kali, namun hasilnya nihil. Dia sempet berfikir akan kehilangan kekuatannya, namun dicoba pada beberapa pihak ternyata masih bisa.

"Apa ini tandanya doi salah satu orang yang tak bisa gue masukin ya?"

Raka berpikir keras. Menemukan cara untuk sampai ke hadapan Marissa. Segala hal dicoba, termasuk mencoba merasuki para orang dekat Marissa yang diunggah ke Instagram. Namun Raka tak menemukan tubuh Marissa bersama mereka karena terhalang waktu pengambilan foto. Raka pun hampir menyerah tentang ini. Lalu kemudian dia menyadari bahwa Instagram mempunyai fitu geotags. Dia berpikir bagaimana memanfaatkan celah tersebut.

"Ini udah kayak teka-teki aja nih hahaha"


-------------------------

First Issues

Next Issues

Monday, October 27, 2014

#2 Mr. Hormon: Musuh



Setelah melakukan ritual masturbasi, Raka pun melanjutkan dengan ritual pembersihan diri. Tak lupa gosok gigi. Dan setelah itu dia berpakaian. Kemudian sarapan dan mengecek sosial media. Setelah itu termenung berpikir tentang keahlian yang tiba-tiba dia dapatkan.

Dia sebelumnya sering membaca tentang Astral Projection dan tertarik untuk mencobanya namun tak pernah berhasil.

"Jadi apa ini yang namanya Astral?"

Dia hampir memiliki keyakinan tersebut, tapi menurut literatur-literatur yang dia baca Astral Projection tidak bisa memiliki tubuh orang lain seperti yang Raka lakukan pada Desi tadi malam.

"Ah jangan diungkit lagi"

Namun akhirnya dia mengenang kembali kejadian tadi malam, dimana setelah dia berhasil merasuk dalam tubuh Desi pikiran mesumnya langsung berbicara. Hal pertama memang aneh dengan tubuh barunya dan pakaiannya. Lalu dia berpikir bagaimana caranya menikmati tubuhnya si Desi? Raka pun memikirkan bahwa inilah kelemahan kekuatannya, dia tak bisa mengendalikan tubuh dengan pikiran. Namun dia tak kehilangan akal, mungkin saja dia melepas bajunya Desi dan bikin nude photos lalu dikirim lewat What's App.

"Ah WA terlalu beresiko mending email aja"

Lalu setelah itu kita ancam Desi dengan nude photos nya, kalo tidak mau menyerahkan tubuhnya. Dasar maniak. Hahaha. Tapi Raka pikir itu terlalu ribet meskipun pada akhirnya dia menanggalkan pakaian Desi dan melihat ke cermin. Meskipun awalnya rada aneh tapi mulailah dia meremas-remas dadanya yang montok, menggerayangi seluruh tubuhnya dan tiba-tiba pintu terbuka!

"Lho, Des! Ngapain kamu?!"

Ibunya si Desi berdiri memandangi putrinya yang lagi cihuy berusaha menutup tubuhnya. Ekspresinya sendiri antara bingung, aneh dan marah. Akhirnya Raka kena semprot dan terbata-bata menjawab rentetan pertanyaan ibunya Desi.

"Kamu ngapain malam-malam gini nyopot baju??"

"Err anu bu.."

"Ngapain??"

"Err anu.. kepanasan!"

Bukan jawaban yang bagus. Tapi setidaknya ibunya Desi tak diam dan menyuruhnya tidur meskipun ekpresinya tampak tak puas. Akhirnya Raka pun berusaha tidur dan "roh"nya pun keluar dan pulang kembali ke tubuh aslinya. Sebenernya bukan roh sih, pikir Raka. Menurut dia itu bukan Roh tapi lebih tepat sebagai tubuh halus, karena jika roh telah keluar maka dia akan mati. Sedangkan meski dia keluar dengan kekuatannya itu, tapi dia masih hidup.

Raka pun bingung akan menghabiskan hari bagaimana lagi. Hasil kerja ilustrasinya sudah dikirim dan kliennya puas. Dia promosi kembali, namun belum ada klien baru yang tertarik dengan jasa ilustrasinya. Ada sih beberapa proyek pribadi Raka sendiri seperti bikin ilustrasi sebuah band, lanjutin album demo nya, tapi dia belum ada mood untuk melanjutkan.

Lalu tiba-tiba SMS datang

"Rak, bisa tolong ambilin banner di Jombang gak? Ntar ada traktiran gratis"

"BISA BISA!" Raka pun mulai membayangkan macam-macam.

"Oke deh. Gue kirim alamatnya"

Raka pun manasin sepeda matic nya, dan langsung tancap gas ke Jombang, tak lupa dandan ganteng. Namun ternyata perjalanannya tidak lancar, Raka dicegat oleh polisi yang sedang mengadakan "operasi"

"Minggir. Minggir dulu nak!"

"Keluarin SIM, STNK dan KTP!"

Raka langsung bergidik karena dia hanya punya STNK dan KTP, dia belum membuat SIM!

"Lho, mana SIMnya?"

"Saya belum buat, pak"

"Yaudah, ikut ke kantor polisi sekarang"

Akhirnya, sepeda dia disita dan dia harus menjalani proses tilang. Namun dalam perjalanan ke kantor polisi dia tau apa yang harus diperbuat dengan kekuatan barunya.

Setelah sampai di pos polisi terdekat dia menjauh dari pos, duduk mencoba menahan amarah dan mulai berusaha mengeluarkan tubuh astral nya. Dan akhirnya tubuh astralnya keluar, sedang tubuh fisiknya ambruk. Lalu dia melayang mencari polisi yang telah menilangnya dan berusaha menyatukan dirinya.

Awalnya merasa aneh karena tubuh yang membuncit dan pakaian yang sempit sesak, namun sekarang dia harus mengetahui dimana kunci kontak sepedanya berada, mengambilnya dan memberikannya pada tubuh fisiknya.

"Kunci sepeda ini dimana?"

"Oh yang ini, itu disitu"

Raka pun dengan luwes mengambilnya. Sempat berpikir untuk langsung memberikan pada tubuh fisiknya, tapi dia berpikir ulang dan memutuskan mengambil sepedanya sekalian. Akhirnya setelah sepedanya juga dibawa dan diparkir tepat di sebelah tubuh fisiknya. Ingin sekali dia langsung kembali pada tubuhnya, tapi dia memutuskan mengembalikan tubuh pak polisi yang dibawanya.

Setelah kembali dan mendapat sambutan tanda tanya dari rekan-rekan polisi. Raka duduk dan berusaha keluar dan kembali pada tubuhnya. Dia pun berhasil dan tanpa basa-basi langsung tancap gas ke percetakan. Di perjalanan dia berteriak kegirangan untuk kebebasannya. Tertawa riang sekali dan bersyukur telah selamat dari cengkeraman licik aparatur negara yang tak bertanggung jawab.

Namun setelah itu dia berpikir.

"Gue emang gak masalah dengan kekuatan ini, tapi orang lain bakal kena masalah juga kalo praktek liar kayak gini diterusin. Gue harus melakukan sesuatu. Tapi apa?"

Sampai tugasnya hari itu selesai pun, dia masih berpikir tentang hal itu. Sempet terpikir dia melakukan spionase dan sabotase terhadap kepolisian, tapi belum ada ide apapun untuk mengumpulkan data dengan efektif. Kekuatannya tidak bisa melakukan spionase untuk mengumpulkan informasi secara cepat. Bisa sih dengan pengintaian, tapi tak ada kepastian mendapat informasi yang akurat.

Berpikir seperti itu membuat Raka berpikir seperti James Bond. Bedanya James Bond seorang playboy tulen, sedangkan dia adalah loser yang sempet tenggelam selam 2 tahun karena diputusin oleh mantan. Fair enough.

"Berpikir mantan jadi hilang mood. Huh"

Setelah pikiran stuck tak ada ide, Raka akhirnya melepaskan tubuh astralnya lalu berkunjung ke hotel-hotel rodeo Jombang dan berharap mendapat sesuatu yang menarik.

Next Issues

------------------------------

First Issues

#1 Mr. Hormon: Makhluk Astral



"Uh ah uh ah Des... DES! AHHH"

Holyshit. He did it again hahaha. Onani, masturbasi apalah itu. Sudah berapa kali dia ngelakuinnya dalam seminggu ini ya. Kali ini entah kenapa yang jadi fantasi liar seorang Raka adalah Desi, ini siapa lagi sih. Oh tetangganya doi. Ya mungkin memang bukan pertama kali Desi menjadi fantasinya Raka, gara-gara tadi malam dia gak sengaja ngobrol lumayan lama sama Desi di teras rumahnya sambil mikir mesum, menelan ludah melihat lekukan tubuhnya Desi. Dasar memang.

Ohiya. Gue Han, narrator yang akan menceritakan Raka, seorang pemuda yang menginjak usia 20 tahun masih pengangguran. Dia sebenernya graphic designer freelance, namun jam terbangnya masih minim. Dan entah kenapa dia masih terperangkap dalam sebuah kecamatan kecil di sebuah kota kecil juga. Gak matching sama pekerjaannya sebenernya. Tapi ya gak papa lah terserah dia.

Setelah mandi dan gak lupa pake shampoo, lalu mengeringkan badan dan hal tetek bengek lainnya tentang ritual membersihkan diri dan berpakaian, Raka lalu kembali duduk di depan laptopnya. Bukan laptop buat professional, tapi laptop mini yang dipaksa buat instal aplikasi-aplikasi kerja yang berat. Tapi masih kuat aja dipake selama 3 tahun ini. Dia ngelanjutin pesenan kliennya untuk bikin potrait ilustrasi.

Raka sih masih berpikir bayarannya kurang layak, dan dia mengutuk dirinya karena gak sempet bilang angkanya. Tapi di sisi lain dia berpikir bahwa lebih baik diselesaikan dan cari klien lain. Bayaran sedikit tapi kalo kliennya banyak juga memang dapetnya lebih banyak pikir Raka.

Akhirnya selesai juga. Raka masih belum puas dengan hasil kerjanya, namun perut dia lapar.

"Sarapaan duluuu"

Akhirnya dia makan nasi bungkus yang dibelikan adiknya tadi pagi. Lalu lanjut memperbaiki ilustrasinya. Dan seharian itu Raka berkutat dengan laptopnya, dan tiba akhirnya dia mengantuk dan tidur.

Dalam alam bawah sadarnya dia masih berkutat di laptopnya, namun ternyata tangannya tak bisa digunakan malahan menembus laptopnya! Raka sendiri masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Apakah ini nyata atau mimpi, melihat kedua telapak tangannya yang menembus barang-barang di sekelilingnya. Hati Raka kegirangan setengah mati.

Raka pun memperhatikan sekeliling kamarnya yang remang-remang, padahal lampu masih menyala. Dan kaget melihat tubuhnya yang terbujur kaku. Oh ternyata bukan, tubuhnya masih bernafas tertidur pulas bahkan ngorok. Dia curiga rohnya keluar dari tubuhnya, dan Raka berusaha mencoba menyatukan "roh" nya dengan tubuh fisiknya. Dan dia terbangun.

Raka mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah kesadarannya kembali, dia melihat kedua tangannya, lalu mencoba menembus dinding tapi tak bisa. Dia kemudian termenung berpikir keras tentang apa yang terjadi. Apakah rohnya bisa lepas hanya karena tertidur? Atau hanya mimpi saja? Karena tak tau jawabannya, dan sinyal mengantuk dari tubuhnya masih kuat akhirnya Raka memutuskan untuk tidur.

Dan kejadian itu pun berulang, "roh" nya kembali lepas dari tubuh fisiknya dan bisa menembus benda fisik. Akhirnya dia mengerti bahwa hanya ketika tertidur dia bisa melepaskan rohnya. Lalu dia berjalan keluar rumah dan pandangannya masih remang remang, dia pikir apa kalo dia dalam mode roh ini dia memang visualisasinya seperti ini. Lalu dia mulai menembus rumah demi rumah tetangganya yang tertangkap sedang tidur pulas. Raka kemudian teringat Desi, namun dia mendengar sesuatu.

Suara yang samar-samar itu semakin jelas itu ternyata adalah suara desahan wanita. Pikiran Raka pun mulai macam-macam, hati nuraninya melarang untuk mendekat namun pikiran tetap kukuh untuk mendekati asal suaranya. Akhirnya dengan nafsu birahi yang memuncak, menembus tembok demi tembok. Dan tak disangka sesosok laki-laki menghadap jelas ke arahnya. Tentu saja Raka kaget dan ketakutan bakal ketahuan namun setelah beberapa detik ternyata laki-laki itu tak menyadari kehadiran Raka. Dia pun bernapas lega sambil kegirangan melihat pertunjukkan langsung yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Raka tau siapa yang lagi bercihuy ria, Boy dan Kris. Mereka adalah pasangan suami-istri tetangganya yang sudah menikah sekitar 5 tahun dan dikaruniai 1 orang anak. Tampang mereka tak begitu rupawan, Boy perutnya yang membuncit sedangkan istrinya juga tubuhnya terdiri dari banyak lemak. Raka pun hampir muntah melihat mereka berdua bergumul.

Laki-laki itu menindih istrinya, memompa vaginanya dengan penisnya penuh nafsu. Mereka bergumul seru saling menggigit dan menjilati leher masing masing. Namun Raka sudah tidak kuat melihat tampang mereka, akhirnya dia kembali mencari pasangan lain yang lagi cihuy.

Dia menembus rumah demi rumah, tembok demi tembok tapi tak menemukan lagi pasangan yang lagi cihuy. Dia mengingat-ngingat ini hari apa.

"Ah pantes aja hari Senin, orang-orang cihuy kan Malam Jum'at"

Hahaha emang dasar mesum. Lalu dia teringat Desy, akhirnya dia berjalan ke arah rumah cewek idamannya itu. Tapi kemudian dia berpikir.

"Eh, apa gue bisa terbang yak, biar gak lama-lama kemana-mana"

Akhirnya dia pun mencoba melayang dan ternyata bisa. Lalu mencoba maju, dan bisa juga. Dan dia berusaha kuat untuk maju dengan kecepatan penuh, ternyata dia kebablasan menembus tembok tanpa bisa mengerem. Kebingungan karena tak bisa mengerem, dia akhirnya menyerah.

"Coba ada tombol Undo"

Setelah berpikir demikian tiba-tiba dia kembali ke tempat dia melayang semula

"Astajim" pikirnya.

Setelah tertawa karena senang menemukan sesuatu yang baru dari kekuatannya dia pun berhati-hati melayang ke rumahnya Desi. Setelah menembus beberapa rumah, akhirnya dia menemukan Desi tertidur pulas. Raka mencoba menyentuhnya tapi tak bisa, karena tangannya menembus tubuhnya. Lalu dia berpikir, apa bisa dia memasuki tubuh Desi?

Raka pun mencoba menyatukan "roh"nya dengan tubuh Desi. Lalu kemudian dia membuka matanya dan Voila! Tubuh Desi sekarang menjadi tubuhnya!

"Wow!" seru Raka.

To be continued...

Next Issues