Setelah melakukan ritual masturbasi, Raka pun melanjutkan dengan ritual pembersihan diri. Tak lupa gosok gigi. Dan setelah itu dia berpakaian. Kemudian sarapan dan mengecek sosial media. Setelah itu termenung berpikir tentang keahlian yang tiba-tiba dia dapatkan.
Dia sebelumnya sering membaca tentang Astral Projection dan tertarik untuk mencobanya namun tak pernah berhasil.
"Jadi apa ini yang namanya Astral?"
Dia hampir memiliki keyakinan tersebut, tapi menurut literatur-literatur yang dia baca Astral Projection tidak bisa memiliki tubuh orang lain seperti yang Raka lakukan pada Desi tadi malam.
"Ah jangan diungkit lagi"
Namun akhirnya dia mengenang kembali kejadian tadi malam, dimana setelah dia berhasil merasuk dalam tubuh Desi pikiran mesumnya langsung berbicara. Hal pertama memang aneh dengan tubuh barunya dan pakaiannya. Lalu dia berpikir bagaimana caranya menikmati tubuhnya si Desi? Raka pun memikirkan bahwa inilah kelemahan kekuatannya, dia tak bisa mengendalikan tubuh dengan pikiran. Namun dia tak kehilangan akal, mungkin saja dia melepas bajunya Desi dan bikin nude photos lalu dikirim lewat What's App.
"Ah WA terlalu beresiko mending email aja"
Lalu setelah itu kita ancam Desi dengan nude photos nya, kalo tidak mau menyerahkan tubuhnya. Dasar maniak. Hahaha. Tapi Raka pikir itu terlalu ribet meskipun pada akhirnya dia menanggalkan pakaian Desi dan melihat ke cermin. Meskipun awalnya rada aneh tapi mulailah dia meremas-remas dadanya yang montok, menggerayangi seluruh tubuhnya dan tiba-tiba pintu terbuka!
"Lho, Des! Ngapain kamu?!"
Ibunya si Desi berdiri memandangi putrinya yang lagi cihuy berusaha menutup tubuhnya. Ekspresinya sendiri antara bingung, aneh dan marah. Akhirnya Raka kena semprot dan terbata-bata menjawab rentetan pertanyaan ibunya Desi.
"Kamu ngapain malam-malam gini nyopot baju??"
"Err anu bu.."
"Ngapain??"
"Err anu.. kepanasan!"
Bukan jawaban yang bagus. Tapi setidaknya ibunya Desi tak diam dan menyuruhnya tidur meskipun ekpresinya tampak tak puas. Akhirnya Raka pun berusaha tidur dan "roh"nya pun keluar dan pulang kembali ke tubuh aslinya. Sebenernya bukan roh sih, pikir Raka. Menurut dia itu bukan Roh tapi lebih tepat sebagai tubuh halus, karena jika roh telah keluar maka dia akan mati. Sedangkan meski dia keluar dengan kekuatannya itu, tapi dia masih hidup.
Raka pun bingung akan menghabiskan hari bagaimana lagi. Hasil kerja ilustrasinya sudah dikirim dan kliennya puas. Dia promosi kembali, namun belum ada klien baru yang tertarik dengan jasa ilustrasinya. Ada sih beberapa proyek pribadi Raka sendiri seperti bikin ilustrasi sebuah band, lanjutin album demo nya, tapi dia belum ada mood untuk melanjutkan.
Lalu tiba-tiba SMS datang
"Rak, bisa tolong ambilin banner di Jombang gak? Ntar ada traktiran gratis"
"BISA BISA!" Raka pun mulai membayangkan macam-macam.
"Oke deh. Gue kirim alamatnya"
Raka pun manasin sepeda matic nya, dan langsung tancap gas ke Jombang, tak lupa dandan ganteng. Namun ternyata perjalanannya tidak lancar, Raka dicegat oleh polisi yang sedang mengadakan "operasi"
"Minggir. Minggir dulu nak!"
"Keluarin SIM, STNK dan KTP!"
Raka langsung bergidik karena dia hanya punya STNK dan KTP, dia belum membuat SIM!
"Lho, mana SIMnya?"
"Saya belum buat, pak"
"Yaudah, ikut ke kantor polisi sekarang"
Akhirnya, sepeda dia disita dan dia harus menjalani proses tilang. Namun dalam perjalanan ke kantor polisi dia tau apa yang harus diperbuat dengan kekuatan barunya.
Setelah sampai di pos polisi terdekat dia menjauh dari pos, duduk mencoba menahan amarah dan mulai berusaha mengeluarkan tubuh astral nya. Dan akhirnya tubuh astralnya keluar, sedang tubuh fisiknya ambruk. Lalu dia melayang mencari polisi yang telah menilangnya dan berusaha menyatukan dirinya.
Awalnya merasa aneh karena tubuh yang membuncit dan pakaian yang sempit sesak, namun sekarang dia harus mengetahui dimana kunci kontak sepedanya berada, mengambilnya dan memberikannya pada tubuh fisiknya.
"Kunci sepeda ini dimana?"
"Oh yang ini, itu disitu"
Raka pun dengan luwes mengambilnya. Sempat berpikir untuk langsung memberikan pada tubuh fisiknya, tapi dia berpikir ulang dan memutuskan mengambil sepedanya sekalian. Akhirnya setelah sepedanya juga dibawa dan diparkir tepat di sebelah tubuh fisiknya. Ingin sekali dia langsung kembali pada tubuhnya, tapi dia memutuskan mengembalikan tubuh pak polisi yang dibawanya.
Setelah kembali dan mendapat sambutan tanda tanya dari rekan-rekan polisi. Raka duduk dan berusaha keluar dan kembali pada tubuhnya. Dia pun berhasil dan tanpa basa-basi langsung tancap gas ke percetakan. Di perjalanan dia berteriak kegirangan untuk kebebasannya. Tertawa riang sekali dan bersyukur telah selamat dari cengkeraman licik aparatur negara yang tak bertanggung jawab.
Namun setelah itu dia berpikir.
"Gue emang gak masalah dengan kekuatan ini, tapi orang lain bakal kena masalah juga kalo praktek liar kayak gini diterusin. Gue harus melakukan sesuatu. Tapi apa?"
Sampai tugasnya hari itu selesai pun, dia masih berpikir tentang hal itu. Sempet terpikir dia melakukan spionase dan sabotase terhadap kepolisian, tapi belum ada ide apapun untuk mengumpulkan data dengan efektif. Kekuatannya tidak bisa melakukan spionase untuk mengumpulkan informasi secara cepat. Bisa sih dengan pengintaian, tapi tak ada kepastian mendapat informasi yang akurat.
Berpikir seperti itu membuat Raka berpikir seperti James Bond. Bedanya James Bond seorang playboy tulen, sedangkan dia adalah loser yang sempet tenggelam selam 2 tahun karena diputusin oleh mantan. Fair enough.
"Berpikir mantan jadi hilang mood. Huh"
Setelah pikiran stuck tak ada ide, Raka akhirnya melepaskan tubuh astralnya lalu berkunjung ke hotel-hotel rodeo Jombang dan berharap mendapat sesuatu yang menarik.
Next Issues
------------------------------
First Issues

No comments:
Post a Comment
Why so serious?